Rabu, 27 November 2013

Romansa Biru



            Sudahlah. Aku sudah terlalu lelah membenci rindu. Sekuat apapun aku membencinya, ia tetap saja enggan beranjak dari memori otakku. Berhentilah. Aku tahu ini saatnya aku berhenti mencandu ragu. Sejauh apapun aku pergi, ia tetap saja hadir di hadapanku. Lupakanlah. Aku kini sadar tak ada cinta yang sedikitpun tersisa. Segigih apapun aku berjuang, nyatanya takdir tak bergeming, tak sedikitpun memihakku. Hilangkanlah. Aku harap aku menghilang dari hidupnya, hingga rindu,ragu dan cinta jatuh pada hati selain dia.
***
Puncak Jaya,  April 2010
            Ini adalah sebuah impian besar. Bagi seorang pendaki gunung seperti Edho, Pegunungan Jayawijaya adalah sebuah impian besar. Bagaimana tidak, pegunungan yang merupakan salah satu dari tujuh puncak benua ini merupakan langkah awal baginya untuk menjejaki enam puncak lain di belahan dunia.
            Berdasarkan info dari pendaki lain dan blog-blog dari hasil surfing di dunia maya, ternyata untuk mendaki gunung ini ada dua akses, yaitu melalui freeport dan ilaga. Pendaki gunung ini harus memiliki rekomendasi dari kantor Menpora, Kapolri, BIA – intelejen Indonesia, Menhutbun/PKA, PT Freeport Indonesia (PTFI). Kalau mau lewat Tembagapura dhoambah dari Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). Itu semua harus diurus di Jakarta. Lalu di Jayapura, rekomendasi dari Bakorstranasda dan Kapolda harus dikantongi. Di Timika, rekomendasi EPO dan izin PTFI untuk fasilitas lintasan. Terakhir di Tembagapura, koordinasi dengan Emergency Response Group (ERG) untuk penanganan Emergency Procedure dan aparat Satgaspam untuk masalah keamanan lintasan. Sementara untuk akses Ilaga, dibutuhkan lebih banyak lagi biaya dan waktu yang lebih lama untuk mencapai kemah induk. Oleh karena itu mereka lebih memilih jalur freeport.[1]  Semua sudah teratasi dan Edho beserta tim pendaki gunung telah siap menaklukan Pegunungan Jayawijaya.
 Puncak Jaya adalah tujuan utamanya. Puncak yang mempunyai ketinggian 4884 mdpl dan di sekitarnya terdapat gletser Carstenz, satu-satunya gletser tropika di Indonesia― adalah tujuannya sebelum pemanasan global benar-benar melenyapkan gletser itu. Andai ia bisa bersama Khanza menikmati gumpalan salju terbentang sepanjang mata memandang.
            Ia kembali teringat email terakhir Khanza padanya.
            To: edho_blue@yahoo.com
            From: khanza_snow@yahoo.com
            Subject: That’s why i call you “Blue”
            Hi, Blue!
Hahaha, pasti dahimu berkerut karena aku selalu memanggilmu sama seperti Joe memanggil anjingnya di Blue’s Clues. Kamu tahu kenapa aku menamaimu Biru? Ya, kamu pasti langsung berkata karena aku menyukai warna itu. Ya memang benar, tapi aku lebih menyukai filosofinya. Biru melambangkan ketenangan, keheningan, kesetiaan, keamanan, kenyamanan, perlindungan, rasa percaya, kecerdasan, sensitif, bisa diandalkan dan stabil. Itulah yang aku rasa darimu.  Semuanya. Kamu punya sifat positif dari warna biru yang tak aku miliki. By the way, semoga kamu bisa tiba di puncak jaya dan kembali kepadaku secepatnya. Gonna miss you!        
Ia lalu membalas email itu bersama selembar foto gunung bersalju. Email terakhir sebelum dia mengadakan ekspedisi panjang itu.
            To                    : khanza_snow@yahoo.com
From                : edho_blue@yahoo.com
            Subject                        : Eternal Snow
Tunggu saja, dua minggu kedepan aku akan mengirimkan fotoku bersama rimbunnya salju abadi di puncak jaya. Akan ku-petieskan kepingan salju itu bersama harapan dan masa depan kita.
Always love you,
Your Blue
***
            Nyatanya aku masih terpaku. Memandang cermin di hadapanku tanpa gairah. Sudah tiga tahun berlalu dan perasaan ini sedikitpun tak berubah. Aku masih menginginkan dia, menggandengnya, merangkulnya, menciumnya, mencintainya. Aku tahu kebodohan ini terlalu aneh untuk kuanggap nyata. Tuhan, begitu ingin aku memandangnya hingga pikiran halusinasi mendominasi otakku. Tiba-tiba saja, sosok itu muncul di hadapanku sembari melengkungkan segaris senyum. Dia mendekat, begitu dekat hingga aku bisa mencium aroma musk favoritnya.
            “Apa kabar?” bisiknya di telingaku. Aku masih terpaku, tak percaya dengan apa yang kulihat.
            “Selalu sama. Merindukanmu, menginginkanmu, dan mencintaimu..” jawabku refleks. Rindu yang telah membuncah memaksaku menariknya dalam pelukku. Oh Tuhan, betapa rindunya aku akan rengkuhnya.
            “ Kamu kemana saja selama ini? Kamu tahu? Aku sangat merindukanmu..”
            “Aku selalu ada di dekatmu. Di sampingmu. Aku akan datang jika kau menginginkanku. Seperti saat ini..” Dia mempererat pelukannya, membiarkan bahunya basah oleh air mata yang perlahan menetes.
            “Kamu jahat! Kamu tahu, berapa banyak bulir air mata yang tumpah karenamu? Aku bingung, marah, kecewa!” ujarku sembari memukul ringan dada bidangnya. Aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk menumpahkan amarah yang kupendam.
            “Maafkan aku,” gumamnya. Ia memegang kedua bahuku, membawaku berhadapan dengannya. Ia lalu mengecup puncak kepalaku, membiarkanku bersandar lebih lama di bahunya. Biarkan waktu berhenti sebentar saja.
***
            “Kenalkan aku pada ibumu..” pintanya di suatu senja yang memerah. Aku lalu menoleh padanya, menyodorkan tatapan seribu tanya.
            “Kamu sudah siap bertemu ibu lagi?” tanyaku ragu. Terakhir kali mereka bertemu adalah saat dimana aku pertama kali mempertemukan mereka berdua. Ibu yang overprotektif terhadap diriku tak menyetujui hubungan kami berdua.
            “Cepat atau lambat aku harus menemuinya. Apa kamu tidak mau kita segera menikah?” Dia lalu melingkarkan lengannya di pinggangku, melemparkan senyum yang bertendensi membuatku tertular untuk melakukan hal serupa. Namun yang tak aku sadari adalah sentuhannya yang membuat darahku bergejolak, meneruskan aliran yang cepat ke kedua pipiku. Aku tersipu.
            “Diam berarti iya,” Ia kembali tersenyum. Senyum teduh itu selalu berhasil menenangkan sekujur saraf di tubuhku. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya, bahu yang selalu siap menahan laju air mataku.
            Pintu kamarku diketuk. Ini saatnya ibu datang bersama tiga orang berpakaian putih. Aku lalu menyuruh Edho bersembunyi di belakang pintu.
            “ Bagaimana harimu?” ujar si pria berkacamata, salah satu dari orang itu.
            “Menyenangkan,” jawabku singkat. Pria satunya melingkarkan manset sphigmomanometer ke lenganku, menekan pompa beberapa kali sembari melihat angka di ujung selang lainnya.
            “110/70, Dok!” serunya saat perlahan melepaskan manset itu. Pria itu lalu menanyakan apa yang terjadi kemarin. “ Dia datang menemuiku,” jawabku mantap.
            Dahi pria itu berkerut. Ia memandang ke sekeliling kamarku dan tak menemukan jawaban atas pernyataanku. “Dimana dia?”
            Aku beralih pandang dari pria berkacamata itu ke sosok Edho yang ada di belakang pintu. Aku tersenyum, diikuti lambaian tangan ke arahnya. Pria itu lalu menuju ke arah Edho dan dia dengan sengaja menginjak kaki Edho!
            “ Hei, jangan injak kaki pacarku!” Pria itu sontak menyingkir, lagi-lagi dengan pandangan penuh tanya. Ketegangan berhasil terbentuk diantara aku dan pria itu. Ia tetap bergeming, meski posisi kakinya sudah tak menginjak Edho lagi.
            “Tidak ada orang, Za,” ujar ibuku datar.
            “Apa kalian semua tidak lihat? Edho ada dibelakang kalian, tersenyum untuk kalian.” Aku berusaha membuat mereka percaya bahwa Edho benar-benar ada. Mata ibu lalu berkaca-kaca, mengindikasikan akan keluarnya air mata yang tertahan di pelupuk matanya.
            “Dok,” gumamnya pada pria itu. Ibu lalu melenggang keluar kamar, namun tidak diikuti oleh kedua orang itu.
            “Mau apa kalian?” Pertanyaanku hanya dibalas dengan satu suntikan yang bersarang di lengan kananku, berhasil membuat pandanganku berubah gelap.
            “Siapa sebenarnya Edho, Bu?” ujar pria berkacamata itu.
            “Edho adalah mantan pacar Khanza. Ia menghilang saat mendaki gunung tiga tahun lalu,” Tutur Bu Fatimah, seraya memandang jauh keluar jendela.
            “Khanza tak berusaha mencari pengganti Edho?” Ia tersenyum tipis, membiarkan pertanyaan pria itu menggantung di udara. Sejurus kemudian ia lalu membuka suara “ Edho adalah cinta pertamanya, dan mereka berencana menikah dua minggu setelah kejadian itu,”
            Pria itu mengatupkan bibirnya, kehilangan daya untuk bicara.
***
            Are you feeling blue?”
            Ia menggeleng keras. Hari ini, saat matahari mulai merangkak pergi, ia terpaku memandang hamparan langit berselimut rona jingga. “ Aku ingin ke surga,”
            Untuk sepersekian detik aku masih belum bisa mencerna kata-katanya. Ingin ke surga katanya?  
“ Kamu ingin meninggalkanku?” Masih membelakangiku, ia menjawab dengan satu anggukan. “ Bisa berarti juga kita meninggalkan mereka,”
            “ Aku tidak mengerti maksudmu,”
            “ Kita bisa ke surga bersama. Aku dan kamu. Kita akan hidup bahagia disana,”
            Kali ini gantian aku yang menggeleng keras. Pembicaraan ini semakin tidak masuk akal. “ Bagaimana mungkin aku meninggalkan keluargaku?”
            “ Aku tidak bisa ada disini selamanya. Kamu harus memilih.”
            “Aku tidak bisa meninggalkan keluargaku, Dho,”
***
Setiap hari, setiap jam, setiap menit ia mencekokiku agar aku mau bersamanya. Pergi meninggalkan dunia ini. Aku tidak tahu lagi bagaimana aku bisa menolak permintaannya yang satu ini. Edho yang kukenal tenang dan membuatku nyaman, berbuah menjadi sosok asing yang kaku dan dingin. Filosofi warna biru yang amat kubenci.
Jika aku tak menurutinya dia mengomel panjang pendek tentang bagaimana hidupku tanpa dia dan bla bla bla. Aku muak, aku ingin lepas dari jeratnya, aku tidak mau mengikuti keinginannya. Tapi aku tidak bisa. Ada sesuatu dalam diriku yang memaksaku bertahan. Aku tidak tahu mengapa.
“Aku tidak bisa,” ujarku meyakinkan, lebih kepada diriku sendiri.
            “Kamu harus bisa! Atau aku yang akan menghilang dari kehidupanmu,” Suaranya meninggi dan sedikit memaksa. Urat lehernya menegang.
            “ Jangan bersikap kekanak-kanakan seperti ini, Dho,” Ujarku dengan suara bergetar.
            “Aku cuma memberimu dua pilihan. Ikut aku atau aku akan pergi,”
            Aku berpikir sesaat. Jika aku tetap memilih keluargaku, Edho akan benar-benar pergi. Tiga tahun tanpanya saja sudah sulit, apalagi harus benar-benar berpisah dengannya. Aku tidak sanggup kehilangannya lagi. Akhirnya aku memutuskan “ Bagaimana caranya agar sampai ke surga?” Senyumnya mengembang.
            Edho ternyata membawaku menuju balkon, tepat di depan kamarku. Langit senja tengah menebarkan garis-garis indigo diantara rona jingganya. Edho mengenggam tanganku erat, mengalirkan kehangatan ke sekujur tubuh.
            “Kamu percaya padaku, kan?” Aku mengangguk pelan. Ia lalu membimbingku menaiki pagar pembatas balkon dan membisikkan “ Terjunlah bersamaku,” Aku menutup mata, membiarkan tubuh mungil ini mengalah pada gravitasi.
            “Za, jangan.!!!!” Teriak ibuku, menyentakku kembali ke alam sadar. Terlambat, tubuhku  telah terhempas secepat laju cahaya. Tuhan, maafkan aku.

***
            Begini rasanya mati. Dingin. Hampa. Lalu dimana surga? Masih dalam kebingungan, mataku terpaku pada tubuh kaku yang berada tak jauh dariku. Tubuh itu tengah dipeluk oleh seseorang yang amat kukenal. Edho?
            Aku masih menyangsikan dengan apa yang ada di depan mataku. Aku lalu berlari ke arahnya, mencoba merengkuhnya, tapi mengapa tubuhku tembus pandang? Tuhan, aku baru sadar bahwa aku ada dimensi yang berbeda.
            “Kemana saja kamu selama ini?”  Edho tak menggubris perkataan Leo, dokter berkacamata itu. Ia malah sibuk berdialog sendiri dengan tubuhku.
            “Maafkan aku, Za. Jujur, setelah email terakhir yang kukirimkan padamu waktu itu, aku ragu apakah aku harus meneruskan hubungan ini,”
            Lalu kenapa kamu malah menjanjikan masa depan padaku? Umpatku dalam hati.
            “Aku tidak pantas untukmu. Keadaanku ini hanya akan menjadi bumerang dalam hubungan kita...”
            “Aku cacat. Pendakian gunung sialan itu membuatku harus mengorbankan salah satu kakiku,” Ia menarik celana jeans-nya hingga sampai lutut. Ya Tuhan, sebuah kaki palsu bertengger disana. “Aku takut. Aku malu. Aku pikir aku tidak sepadan denganmu sejak kejadian itu. Akhirnya aku berlari, menjauh dari hidupmu. Aku harap kamu menemukan pria yang lebih baik untukmu. Nyatanya kamu malah memilih menunggu lelaki cacat sepertiku,”
            Sekali lagi, kucoba merengkuhnya dalam tubuhku. Nihil, semua sia-sia. Tuhan, beri aku kesempatan satu kali saja agar aku bisa memberitahunya perasaanku yang sebenarnya.
            “Leo memberitahuku bahwa kamu masih mencintaiku. Tidak pernah melupakanku. Selalu merindukanku. Aku pikir kebohongan akan kematianku membuatmu mundur, melupakanku perlahan. Tapi nyatanya kamu masih seperti dulu...”
            “Maafkan aku, Za. Sungguh, kata maaf tidak cukup untuk pecundang sepertiku.. Aku yang sungguh tak benar-benar mencintaimu. Maaf karena selama ini aku hanya mencintaimu setengah hati, I love you but it comes too late,” bisiknya perlahan.
            Ia makin mempererat pelukannya, membuatku sesak. Mengapa berakhir seperti ini? Mengapa tidak kau takdirkan aku bahagia, Tuhan? Apa menurutmu bahagiaku adalah berpisah darinya? Aku tahu Tuhan, aku terlalu egois. Aku tahu Tuhan, rengekanku sekarang tidak berarti lagi. Aku hanya minta satu, satu doa yang kuharap bisa tiba langsung di telinganya. Harapan agar dia bisa hidup bahagia, dengan atau tanpaku. Karena selama dia bahagia, aku juga bahagia―
            Aku melangkah ringan, membumbung tinggi menuju langit, tempat terakhirku bersemayam. Selamat tinggal.
            Cintailah dia sepenuh hati, bukan sepenuh jiwa. Karena jika engkau putus, engkau hanya merasa sakit hati, bukan sakit jiwa.” ― Mario Teguh
                       
           






*tulisan ini aku ikutkan dalam #RainbowProject ^^

Selasa, 25 Juni 2013

10 Things I Hope from GagasMedia #unforgotTEN


10 Things I Hope from GagasMedia #unforgotTEN
                Hai GagasMedia dan para #GagasAddict yang sampe sekarang masih tetap setia membolak-balik novel terbitan GaMed :3!!!
                Seriously, aku baru tahu kalo gagas udah 10 tahun menyuguhi kita novel-novel keren yang nggak pernah habis untuk dibahas. Jujur, aku baru sekitar 4 tahunan jadi #GagasAddict. Awalnya sih karena pengen dapet bacaan yang nggak monoton alurnya, yang ending-nya nggak ketebak dan tema ceritanya nggak biasa. Kenal gagas sih dari temen sekelas, yang juga doyan ngemil buku :p (read: baca buku). Dia ngasih aku pilot’s woman. Dia bilang, “Baca deh, Ki. Lu nggak bakal nyesel dan pasti langsung tergila-gila sama Erick..” Aku hanya tertawa mendengar promosinya. Sekilas, buku bersampul biru berilustrasi pesawat kertas itu tidak terlalu menarik. Mungkin itu yang menyebabkan beberapa orang awalnya nggak melirik buku gagas :o. Tapi berhubung yang mempromosikan bukan mbak-mbak tokbuk, alhasil aku mulai membaca satu persatu halaman di novel itu. Guess what? Aku emang sukkaaaa sama Erick :3. Begitulah, selanjutnya kami berdua mulai berburu novel gagas, mulai dari minjem sampe bela-belain nabung buat beli novel gagas hihihi....
                Harapan aku buat GagasMedia sih simpel aja:
  1. Cari tema cerita yang nggak biasa, nggak mudah ketebak, latar yang menarik
  2.   Perbanyak lagi gagasduet-nya, aku sukaaaa 
  3.   Mungkin lebih sering ngadain lomba-lomba buat para penulis amatir yang mau menambah pengalaman
  4. Coba adakan sharing tentang penulisan novel di beberapa kota seperti kotaku (read: Palembang)
  5. Design cover yang unik, menarik jadi banyak yang love at the first sight pas liat novelnya :3
  6. Murahin dong harga bukunya, dompet ane jebol gara-gara beli buku kuliah (hiksss :’’)
  7.   Adakan bazar di kota-kota besar selain di pulau jawa (maunyyaaa :3)
  8.   Mungkin harus sesuaikan antara blurb dan isi novel, blurb yang menarik memang membuat pembaca ingin membeli tapi belum tentu membuat pembaca puas membacanya, terkadang kecewa malah karena nggak sesuai dengan blurb-nya.
  9. Buat semacam trilogi atau tetralogi yang unik dong, kadang pembaca masih belom puas dengan satu buku, perlu ada buku lanjutan supaya keasyikan pada novel itu tak berhenti di satu buku hihihi...
  10. Semoga makin sukses
in quote, only music describes that words can't, but i think only gagas describes every story that other can't :p
I LOVE YOUUUUU GagasMedia :*:*:*

               

Jumat, 15 Maret 2013

Kepada Hatimu Aku Kirimkan Musik Pengiring Mimpi Indahmu



Musik bisa membawamu ke dunia berbeda, menapaki segala hal yang baru dengan indah. Musik bisa menarikmu menjelajahi setiap jejak liriknya tanpa terpengaruh dunia luar yang sama sekali berbeda. Musik mampu meredam emosi yang menggeliat. Musik mampu mengubah duniamu. Musik itu pilihan. Bagiku musikku adalah kamu.
Kamu duduk dengan santainya di koridor, memetik gitar kesayanganmu perlahan, menghasilkan harmoni yang tak ingin ku lewatkan. Aku lalu terhanyut dalam setiap chord yang kamu mainkan, mengikuti setiap irama yang menggema darinya. Membiarkan diri ini melayang pada dimensi yang berbeda.
Entah kenapa saat itu aku merasa kita tak terpisah jarak. Hanya kamu dan aku. Waktu seolah berhenti berdetak kala pandangan kita berpadu, menimbulkan harmoni baru yang mengalun dari detak jantungku. Kita sama-sama tersenyum lalu melepas tatapan ke arah yang berlawanan. Kamu lalu mulai membisikkan syair yang menemani lagu itu. Sekali lagi, aku terhipnotis, bukan hanya karena alunan petikan gitarmu, melainkan dari merdunya suara beratmu. Bibirku seolah tersihir untuk mengikutimu bernyanyi. Perlahan lagu itu memenuhi dimensi ruang, membuat kita semakin merasa bahwa lagu itu benar-benar merasuki diri.
Tapi aku terlalu naif untuk sekedar berkata bahwa aku menyukai suaramu, permainan gitarmu, dan senyummu. Aku bukan orang yang dengan mudahnya mengatakan hal seperti itu. Waktu seakan menggiringku pada kenyataan bahwa aku seorang pengecut yang hanya bisa menikmati kebersamaan kita dalam diam. Lagi-lagi aku hanya membiarkan perasaan itu kusimpan sendiri dalam hati.
Lalu kau berhenti memetik gitarmu, membiarkan udara menggantung di langit-langit. Kebisuan langsung melingkupi ruang diantara kita. Tapi itu hanya berlangsung perlahan, setelah kamu melihatnya berjalan tergesa-gesa menuju kelas. Pandanganmu mengikuti setiap inchi perpindahannya seolah-olah tak ingin melewatkan apapun tentangnya. Aku tahu sepersekian detik sebelumnya kita sama-sama terperangkap dalam suasana menghangatkan, membuatku ingin terbang tinggi.
Namun, itu hanyalah waktu yang singkat. Aku ingin sekali berteriak di depanmu, mengatakan bahwa kamu harus melupakan wanita itu, wanita yang hanya berusaha menyakitimu. Tapi bibirku terlalu gemetar untuk sekedar menegurmu apalagi membentakmu. Aku tahu kamu hanya bisa merasakan sakit saat menatapnya, tapi entah mengapa rasa sakit itu seolah bahagia karena jika kamu tidak menatapnya kamu akan lebih terluka.
Cintamu mungkin jatuh pada hati yang salah, sehingga membiarkan hati yang mencintaimu menunggu lebih lama. Aku tahu kamu sebenarnya perlahan telah membuka hatimu untukku. Kamu hanya butuh waktu dan keberanian. Waktu untuk melupakan dan keberanian untuk mengakhiri cintamu padanya. Jika waktu yang kau butuhkan, aku akan menunggu. Jika keberanian yang ingin kau persiapkan, aku akan menanti.
            Baby, believe me it’s only a matter of time.

tulisan ini aku ikutkan dalam lomba http://lombamenulis.tumblr.com/post/42021064702/lomba-menulis-tema-curhat-by-pelangi-kata-dl-20 ... semoga saya kali ini berhasil :)