Selasa, 25 Juni 2013

10 Things I Hope from GagasMedia #unforgotTEN


10 Things I Hope from GagasMedia #unforgotTEN
                Hai GagasMedia dan para #GagasAddict yang sampe sekarang masih tetap setia membolak-balik novel terbitan GaMed :3!!!
                Seriously, aku baru tahu kalo gagas udah 10 tahun menyuguhi kita novel-novel keren yang nggak pernah habis untuk dibahas. Jujur, aku baru sekitar 4 tahunan jadi #GagasAddict. Awalnya sih karena pengen dapet bacaan yang nggak monoton alurnya, yang ending-nya nggak ketebak dan tema ceritanya nggak biasa. Kenal gagas sih dari temen sekelas, yang juga doyan ngemil buku :p (read: baca buku). Dia ngasih aku pilot’s woman. Dia bilang, “Baca deh, Ki. Lu nggak bakal nyesel dan pasti langsung tergila-gila sama Erick..” Aku hanya tertawa mendengar promosinya. Sekilas, buku bersampul biru berilustrasi pesawat kertas itu tidak terlalu menarik. Mungkin itu yang menyebabkan beberapa orang awalnya nggak melirik buku gagas :o. Tapi berhubung yang mempromosikan bukan mbak-mbak tokbuk, alhasil aku mulai membaca satu persatu halaman di novel itu. Guess what? Aku emang sukkaaaa sama Erick :3. Begitulah, selanjutnya kami berdua mulai berburu novel gagas, mulai dari minjem sampe bela-belain nabung buat beli novel gagas hihihi....
                Harapan aku buat GagasMedia sih simpel aja:
  1. Cari tema cerita yang nggak biasa, nggak mudah ketebak, latar yang menarik
  2.   Perbanyak lagi gagasduet-nya, aku sukaaaa 
  3.   Mungkin lebih sering ngadain lomba-lomba buat para penulis amatir yang mau menambah pengalaman
  4. Coba adakan sharing tentang penulisan novel di beberapa kota seperti kotaku (read: Palembang)
  5. Design cover yang unik, menarik jadi banyak yang love at the first sight pas liat novelnya :3
  6. Murahin dong harga bukunya, dompet ane jebol gara-gara beli buku kuliah (hiksss :’’)
  7.   Adakan bazar di kota-kota besar selain di pulau jawa (maunyyaaa :3)
  8.   Mungkin harus sesuaikan antara blurb dan isi novel, blurb yang menarik memang membuat pembaca ingin membeli tapi belum tentu membuat pembaca puas membacanya, terkadang kecewa malah karena nggak sesuai dengan blurb-nya.
  9. Buat semacam trilogi atau tetralogi yang unik dong, kadang pembaca masih belom puas dengan satu buku, perlu ada buku lanjutan supaya keasyikan pada novel itu tak berhenti di satu buku hihihi...
  10. Semoga makin sukses
in quote, only music describes that words can't, but i think only gagas describes every story that other can't :p
I LOVE YOUUUUU GagasMedia :*:*:*

               

Jumat, 15 Maret 2013

Kepada Hatimu Aku Kirimkan Musik Pengiring Mimpi Indahmu



Musik bisa membawamu ke dunia berbeda, menapaki segala hal yang baru dengan indah. Musik bisa menarikmu menjelajahi setiap jejak liriknya tanpa terpengaruh dunia luar yang sama sekali berbeda. Musik mampu meredam emosi yang menggeliat. Musik mampu mengubah duniamu. Musik itu pilihan. Bagiku musikku adalah kamu.
Kamu duduk dengan santainya di koridor, memetik gitar kesayanganmu perlahan, menghasilkan harmoni yang tak ingin ku lewatkan. Aku lalu terhanyut dalam setiap chord yang kamu mainkan, mengikuti setiap irama yang menggema darinya. Membiarkan diri ini melayang pada dimensi yang berbeda.
Entah kenapa saat itu aku merasa kita tak terpisah jarak. Hanya kamu dan aku. Waktu seolah berhenti berdetak kala pandangan kita berpadu, menimbulkan harmoni baru yang mengalun dari detak jantungku. Kita sama-sama tersenyum lalu melepas tatapan ke arah yang berlawanan. Kamu lalu mulai membisikkan syair yang menemani lagu itu. Sekali lagi, aku terhipnotis, bukan hanya karena alunan petikan gitarmu, melainkan dari merdunya suara beratmu. Bibirku seolah tersihir untuk mengikutimu bernyanyi. Perlahan lagu itu memenuhi dimensi ruang, membuat kita semakin merasa bahwa lagu itu benar-benar merasuki diri.
Tapi aku terlalu naif untuk sekedar berkata bahwa aku menyukai suaramu, permainan gitarmu, dan senyummu. Aku bukan orang yang dengan mudahnya mengatakan hal seperti itu. Waktu seakan menggiringku pada kenyataan bahwa aku seorang pengecut yang hanya bisa menikmati kebersamaan kita dalam diam. Lagi-lagi aku hanya membiarkan perasaan itu kusimpan sendiri dalam hati.
Lalu kau berhenti memetik gitarmu, membiarkan udara menggantung di langit-langit. Kebisuan langsung melingkupi ruang diantara kita. Tapi itu hanya berlangsung perlahan, setelah kamu melihatnya berjalan tergesa-gesa menuju kelas. Pandanganmu mengikuti setiap inchi perpindahannya seolah-olah tak ingin melewatkan apapun tentangnya. Aku tahu sepersekian detik sebelumnya kita sama-sama terperangkap dalam suasana menghangatkan, membuatku ingin terbang tinggi.
Namun, itu hanyalah waktu yang singkat. Aku ingin sekali berteriak di depanmu, mengatakan bahwa kamu harus melupakan wanita itu, wanita yang hanya berusaha menyakitimu. Tapi bibirku terlalu gemetar untuk sekedar menegurmu apalagi membentakmu. Aku tahu kamu hanya bisa merasakan sakit saat menatapnya, tapi entah mengapa rasa sakit itu seolah bahagia karena jika kamu tidak menatapnya kamu akan lebih terluka.
Cintamu mungkin jatuh pada hati yang salah, sehingga membiarkan hati yang mencintaimu menunggu lebih lama. Aku tahu kamu sebenarnya perlahan telah membuka hatimu untukku. Kamu hanya butuh waktu dan keberanian. Waktu untuk melupakan dan keberanian untuk mengakhiri cintamu padanya. Jika waktu yang kau butuhkan, aku akan menunggu. Jika keberanian yang ingin kau persiapkan, aku akan menanti.
            Baby, believe me it’s only a matter of time.

tulisan ini aku ikutkan dalam lomba http://lombamenulis.tumblr.com/post/42021064702/lomba-menulis-tema-curhat-by-pelangi-kata-dl-20 ... semoga saya kali ini berhasil :)

Minggu, 24 Februari 2013

Curhat: Kamu Tahu Bagaimana Aku



Tiba-tiba saja aku memikirkanmu. Membayangkan bagaimana kedua bola matamu terpaku, menatap lekat padaku dengan malu-malu.  Memandang senyum yang terukir jelas di wajahmu yang entah mengapa  berusaha kau sembunyikan dariku. Merasakan  bagaimana lidahmu kelu saat kita saling berhadapan. Ya, kita sama-sama tak punya keberanian untuk menyapa satu sama lain. Kebekuan di bibir kita seakan suatu hal yang tak bisa dicairkan. Saat tatapan kita beradu pun, yang ada hanyalah refleks memalingkan wajah di saat yang bersamaan pula.
Tiba-tiba saja aku merindukanmu. Membayangkan kau berjalan di koridor dengan tergesa-gesa. Melihat ekspresi wajahmu yang  sangat menggemaskan. Memandang tawa yang bergulir darimu setiap harinya. Merasakan hangat yang menjalar ke kedua pipiku saat kita berpapasan. Kita, dua insan yang saling mengagumi satu sama lain. Membiarkan rasa ini terdiam dalam hati tanpa pernah bergerak ke sisi hati yang lain. Merelakan perasaan ini hanya terpaku pada satu nama, meski tak pernah memberitahu sang pemilik nama.
Biarlah aku menanamkan rindu padamu setiap harinya, menuainya di suatu hari nanti yang mungkin di saat itu kita telah menjadi satu. Bagaimana dengan rasa hatimu? Merasakan hal yang sama pula, kah? Mungkin saat ini kau hanya tersipu membaca potongan kertas kecil dariku, membayangkan pipiku yang memerah karena kau terus memandangiku. Lalu mungkin kau akan berkata “Kau tentu tahu bagaimana aku.”
Bagaimana aku tahu? Tentu, karena kau tahu sepenuhnya bahawa aku sangat mengenalmu. Jauh sebelum kau mengetahui keberadaanku. Jauh sebelum kau pertama kali menyapaku. Jauh sebelum pertama kali kita saling berpandangan. Jauh sebelum kau mengatakan kau mencintaiku. Ku tak mengerti mengapa semua ini terjadi. It just happened.
I Love You.
                                                            Teruntuk seseorang yang akhir-akhir ini mencuri perhatianku.
                              Tenanglah, aku tak pernah mengabaikanmu karena kamu masih dalam radiusku.

Selasa, 19 Februari 2013

Curhat Sang Secret Admirer : Ketika Cinta Tak Butuh Balasan



Teman-teman mengenaku sebagai pribadi yang sensitif, kadang jahil, seringnya tak serius tapi bisa dijadikan tempat untuk bercerita. Ya, aku senang sekali mendengar cerita dari teman-teman saya, apa saja aku akan dengarkan ― apalagi kisah cinta mereka. Ada kepuasan tersendiri saat aku bisa membantu mereka menyelesaikan setiap masalah.
            Tapi, sebenarnya aku tipikal orang yang sulit untuk menceritakan kehidupan pribadi saya kepada orang lain. Seringnya, aku menceritakan ini semua kepada mama, yang juga setia mendengar setiap celotehan aku yang kadang tidak penting itu. Kadang, aku juga bercerita pada sahabatku―yang notabene laki-laki― karena aku merasa lebih nyaman menceritakan itu padanya ketimbang pada teman perempuanku sendiri.
            Lalu tentang cinta pertama ini. Cinta pertama ini pun tak pernah berpindah objek. Selalu pada arah yang sama. Selalu pada alur yang tak berbeda. Cinta pertama? Jadi benar pria ini cinta pertamaku? Lalu mengapa aku bisa mendefinisikannya seperti ini? Memang bagaimana rasanya?

Tentu, cinta pertama itu selalu terasa manis bagimu. Mengecapnya adalah hal paling menyenangkan yang pernah ada. Seperti segala sesuatu yang terjadi pertama kali, cinta pertama pun tak pernah luput dari kata “takut mencoba”. Ya, awalnya aku pikir semua yang terjadi padaku adalah hal tak lazim. Bagaimana tidak, aku yang dulunya cuek kini mulai mencurahkan perhatian pada sosok pria yang cukup familiar di kampusku. Sosok itu memang begitu sempurna, wajah tirus berahang tegas, senyum yang memesona serta kacamata yang membingkai wajahnya begitu membuatku terpikat.
Tapi cerita ini tak pernah diketahui. Cerita tentang pria ini kusimpan rapat-rapat dalam hati. Tak ada satupun yang tau mengenai rasa yang menggebu-gebu ini terhadapnya. Iya, mereka  tahu bahwa aku menyukai seseorang, tapi mereka tak tahu siapa sebenarnya orang itu. Aku lagi-lagi tak ingin berbagi cerita dengannya. Aku hanya mau perasaan ini berkembang dengan sendirinya, tanpa ada siapapun yang tahu― termasuk  si objek dalam cerita ini. Bodoh,kan? Mencintai tanpa diketahui. Merindu tanpa pernah dirindu. Aku tahu semua yang kulakukan adalah tindakan bodoh , tapi aku tak berdaya dengan semua ini.

            Setiap kali kami berpapasan, sinus takikardia mulai menyerang jantungku. Senyumnya yang memesona sangat menular, membuatku tak pernah lupa membalasnya kembali. Hei, aku tak hanya mengagumi paras eloknya saja, selain itu dia juga pintar dan pandai bergaul, jauh dari aku yang notabene mahasiswi biasa yang pergaulannya terbatas.
            Saat OSPEK, aku memang sudah mencuri-curi pandang padanya. Dia memang terlihat cuek tapi aku tahu dia sebenarnya orang yang ramah dan murah senyum. OSPEK membuatnya sulit mengurai senyum di depan mahasiswa. Sejak saat itu aku mulai mencari tahu tentang dirinya. Dia adalah pria yang tak pernah luput mengerjakan sholat lima waktu, itu memberinya bonus lebih dalam pandanganku. Wajahnya yang rupawan terhiasi oleh cahaya teduh yang melingkupi, membuatnya semakin memesona.
            Aku tahu bahwa yang kurasa itu adalah cinta, bukan sekedar rasa kagum yang menguar sementara. Aku tahu aku hanya bisa memandangnya dari jauh, tak mungkin bisa menggampainya lebih dekat. Segalanya memang terasa mustahil antara aku dan dia. Tapi, entah mengapa memandang wajahnya saja sudah cukup membuatku bahagia. Kadang, ketika cinta itu tak bersimpangan, artinya tidak harus memiliki,bukan?
Memandangi senyumnya sudah cukup membuat hati merekah. Bertatapan dengannya sudah membuatku bahagia. Apalagi yang mesti ku cari? Perasaan yang sama terhadapku? Tidak. Aku tidak menuntut lebih terhadapnya. Selama aku masih bisa memandanginya, itu sudah cukup. Bagiku, dialah hal terindah yang pernah mewarnai hari-hariku di kampus tercinta
            Terima kasih telah menciptakan pelangi diantara langitku, aku akan mengingatmu sebagai hal termanis yang pernah aku kecap dalam hari-hariku. Semoga kamu bahagia bersama pilihanmu, karena jika begitu bahagia juga akan menyertaiku J.
            I LOVED YOU.
                                                                                                            With love,
                                                                                                            @mirandakazuto


tulisan ini aku ikutkan ke lomba di http://lombamenulis.tumblr.com/post/42021064702/lomba-menulis-tema-curhat-by-pelangi-kata-dl-20 
pengumuman tanggal 13 april 2013, wish me luck!

Berbatik, kenapa tidak?



                “Tidak semua yang menjadi kebudayaan itu benar dan selama itu benar maka peliharalah.”
                Lihatlah bagaimana masyarakat Indonesia dengan mudahnya memilih hal-hal yang berbau barat ketimbang menoleh ke produk buatan dalam negeri. Mereka belum tersadar bahwa sebagian besar bahan baku produk impor ―yang mereka banggakan karena harus membeli di luar negeri― mengambil sumber daya alam negeri sendiri. Jadi masihkah harus berbangga dengan produk luar?
                Paham yang mengatasnamakan westernisasi dipandang lebih baik ketimbang easternisasi berkembang pesat. Sulit mencari orang yang benar-benar mencintai budayanya sendiri, bangga akan hasil produk lokal dan tak pernah canggung memakainya di segala event. Kalaupun itu ada, pasti hanya segelintir orang dan mereka dapat dipastikan adalah orang yang mengerti seni. Sebut saja mengenakan  batik dalam kehidupan sehari-hari. Batik dulunya identik dengan hal-hal formal, penggunaannyapun sangat terbatas pada event-event tertentu dan kebanyakan pencinta  batik adalah orang tua. Anak muda segan mengenakannya lantaran dianggap “pakaian orang tua”. Mereka telah teracuni hal-hal yang mengandung unsur westernisasi dan mulai meninggalkan pijakan mereka berdiri; kebudayaan timur.
                Bangsa lain yang mengamati kondisi ini mengambil kesempatan untuk mengakui budaya Indonesia adalah budaya milik mereka , warisan lelehur mereka. Di saat itulah bangsa Indonesia menyadari bahwa milik mereka telah direbut dan mulai mengakui kalau budaya itu milik bangsa Indonesia. Seringnya, yang teramati di lapangan adalah kita hanya bisa berkoar tanpa mengambil tindakan. Kita kadang terlambat mematenkan apa yang memang menjadi milik kita. Tidak usah jauh-jauh, sekedar memakainya pun kita enggan, sekedar bangga padanya pun juga masih sangsi. Lalu salahkah bangsa lain merebut kebudayaan itu?

                Beberapa orang yang berinisiatif mempromosikan budaya Indonesia lalu bermunculan.  Batik pun sekarang dikreasikan dalam berbagai rupa, warna dan corak. Canting dan malam pengrajin batik semakin giat menggoreskan pola di sehelai kain  batik . Kita bisa melihat perkembangan pesat dari batik dengan ditemukannya usaha toko batik, butik batik, bahkan  batik online dimana mereka bisa berbelanja batik melalui koneksi internet. Selain penjualan batik yang kian menjamur, internet pun kini telah menjadi wadah untuk mempromosikan batik secara elektronik via blog , sebut saja www.berbatik.com, e-commerce batik pertama di Indonesia mengajak blogger menunjukkan kecintaan pada batik .
Kebudayaan bagi bangsa Indonesia merupakan sesuatu yang sakral dan fundamental mengingat beragam rupa kebudayaan itu hadir, mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari. Sebut saja hal pokok yang dibutuhkan setiap manusia;  sandang, pangan, dan papan. Negeri beraneka aset budaya tak ternilai ini perlahan telah sadar akan potensi hal itu.
Bangsa barat saja mengapresiasi batik dengan bangga, lalu mengapa kita sulit bangga atas milik kita sendiri? Mulailah cintai budaya kita bukan karena kebudayaan itu hampir direbut bangsa lain, tapi memang karena kita mencintainya layaknya sesuatu yang memang ada di dalam diri kita. Tentu kita tidak harus menganut konsep “cinta tak harus memiliki” pada kebudayaan sendiri,bukan?
Ayo, mulailah berbatik dari sekarang, karena kalau bukan kita, siapa lagi?
Salam Batik! :)