Kamis, 27 September 2012

Pour Toi, Senandung Sunyi di Akhir Kisah


Aku adalah penggemar rahasiamu. Setiap jengkal langkahmu pasti teramati oleh sepasang bola mataku ini. Aku memang menyukaimu sejak lama. Aku bahkan hapal apa yang kau suka dan semua yang kau benci, kemana kau menghabiskan waktumu, dengan siapa kau pergi, dan kepada siapa cintamu berlabuh. Meski semua orang mencemooh tingkahmu, aku masih setia memujamu. Aku tak peduli apapun yang orang katakan tentangmu. Bagiku semua manusia itu pasti punya ketidaksempurnaan dan aku selalu bisa memakluminya. Dan ketika cinta itu mengatakan “iya” pada hatimu ke arahku, aku hanya bisa tersenyum puas dan berkata “ ini memang yang ku impikan”. Dan kau tentu tidak tahu, sudah sejak lama aku menginginkan posisi ni, menjadi seseorang  penting di hidupmu. Ku pikir, kau lah segala yang ku inginkan dalam hidup,awalnya...

Selasa, 25 September 2012

sayang dan cinta :)

hai rindu, sudah lama kau tak menegurku. Bagaimana kabar sayang hari ini? masihkah benci mendekatinya? semoga sahabatnya yang bernama bahagia itu bisa menemani kesendiriannya. kabarnya, cinta perlahan mulai menghilang. kenapa sayang tak berusaha berlari mengejarnya? masihkah sayang memiliki cintanya? ataukah mereka memang telah berpisah, hingga akhirnya cinta memutuskan beranjak dari kehidupan sayang.

rindu, tolong kabarkan pada sayang, bahwa cinta takkan pernah meninggalkannya. ia hanya butuh waktu untuk sendiri hingga akhirnya bisa memahami sayang seutuhnya. cinta kadang salah mengerti tentang apa yang dilakukan sayang. cinta kadang cemburu dengan tingkah sayang yang selalu berbuat baik dengan hati-hati di sekelilingnya. lalu cinta baru menyadari, hanya dirinyalah yang menjadi objek hati sayang.

rindu, tolong katakan pada sayang, cinta sebentar lagi akan kembali. tunggulah ia sebentar lagi. sambut ia penuh senyum. cinta sudah bisa memahaminya.
:)

Rabu, 12 September 2012

say goodbye ...

sebentar saja. biarkan aku menangis. mengurai kekuatan terakhir yang ku miliki. kini tak ada gunanya lagi. aku bertahan untuk terakhir kali. melepas bukan sekedar melupakan. sebentar saja. aku ingin merenggangkan otakku.sejenak menghapus angan. meski itu indah. tapi seringnya malah menyakitkan. lebih baik begini. tanpamu, bayangmu ataupun khayalmu. dan tangis ini bukan pertanda kalah. ini pertanda aku takkan menyesal melepasmu. pergilah jauh. aku takkan merindumu lagi. aku takkan memikirkanmu lagi. selamanya.
biarkan ku sendiri. jangan beri harapan lagi. jika engkau tak mencintaku, jangan begitu. aku lelah tersakiti. aku cuma mau bahagia. dan bahagiaku mungkin tanpamu. aku percaya. dan biarkan ku berdiri sendiri tanpa bantuanmu. aku bisa. melupakanmu, atau sekedar melepasmu...

hmm...

rasanya lucu. aku hanya mencintamu dalam diamku. tak pernah ada ungkapan cinta berlebihan. hanya diam dan merasakan. janji-janji pun tak pernah menyentuh sedikitpun gendang telinga. aku bisa merindumu dalam senyumku. setiap senyumku adalah pesan rindu tentangnmu. aku menyayangmu dalam anganku. tak pernah sekalipun bersentuhan. cukup tatapan mata bisa membuat aku menggila.

begitulah caraku mencintamu. tak penah sekalipun tergerak untuk mengubah semuanya. karena itu yang hanya bisa ku lakukan. karena keberanian tak pernah mau menyentuh diriku. ya.. engkau hanyalah cinta, cinta terpendamku. dan mungkin akan selalu jadi rindu, rindu tak bertuanku. dan bisa jadi aku akan selalu jadi pengagum rahasiamu.


Jumat, 07 September 2012

at this moment...

aku ingin menghambur ke arahnya.
memeluknya.
mengatakan aku begitu merindunya.
mengikrarkan aku telah jatuh cinta padanya.
membisikkan bahwa dia telah memilikiku seutuhnya
tapi tak mungkin.
dia tak ingin memelukku.
dia tak sedikitpun merinduku.
dia mencinta orang lain.
patah.
hatiku patah.
tiada yang sanggup memungut serpihannya.
aku tak sanggup membayangkannya.
dia menggandeng wanita lain.
dia memeluk seseorang, bukan aku.
aku membencinya, namun aku merindunya.


rindu dan harap

Aku sudah jatuh tepat di titik lebur rinduku. Semua rasa itu menguar, menembus celah-celah pertahananku, membuat hati begitu rapuh. Semua hal selalu mengaitkanku pada sosok dirimu. Kenangan yang terukir selalu berhasil masuk ke alam bawah sadarku seperti kaset yang selalu memutar bagian yang sama berulang-ulang. Memori bersamamu selalu terngiang-ngiang saat sepi menghantui. Aku begitu merindumu.

Tiap kudengar senandung itu, air mataku selalu berhasil menggenangi pelupuk mata. Aku teringat sosokmu yang begitu piawai memainkan gitar sambil menyenandungkan lagu itu. Lagu kita. Lagu yang dibawakan Lee Min Ho "My Everything" begitu lembut menyentuh gendang telingaku. Kau selalu mendendangkan lagu itu. Seperti sebuah hal yang wajib kau lakukan. Semakin lama, lagu itu semakin akrab di telingaku. Bahkan suara Lee Min Ho yang ku idolakan itu sedikit demi sedikit lenyap, tergantikan suara lembut khas-mu. Tapi aku selalu suka cara kau menyanyikannya. Begitu menghayati seolah akulah objek di lagu itu.Aku bangga menjadi objek dalam hidupmu. Aku selalu merindu caramu menyenandungkan itu.

Lalu ku bergerak menuju ruang musik. Disana bersandar gitar kesayanganmu. Kau menggunakannya di saat apapun, bahkan kau pernah bilang bahwa dia adalah hal kedua yang terpenting dalam hidupmu, setelah aku tentunya. Petikan gitar itu selalu berhasil membuat perasaanku jauh lebih baik. Pernah aku belajar memainkan gitar itu, tapi hasilnya selalu tidak sama. Gitar itu seolah punya ruh dan hanya kau saja yang bisa memainkannya dengan indah. Gitar itu sendiri. Sama sepertiku, dia pasti merindu sentuhanmu.

Aku menyusuri lorong di lantai dua saat ku temukan pintu kamarmu terbuka. Rasa penasaran membuat langkahku beralih, masuk menelusuri kamarmu. Kamar khas cowok, lengkap dengan " berantakan" yang memang lazim. Sertifikat, piagam, medali berantakan memenuhi lantai kamarmu. Tanganku refleks memungutinya satu persatu, membuatnya sedikit rapi. Lalu aku menemukan selembar kertas tulisan tanganmu. Dengan cepat aku membacanya.

tiada kata yang tepat menggambarkan rasanya
tiada hal indah yang mampu menandingi kelembutannya
tiada sesuatu yang manis yang melebihi senyumnya
aku mencintainya,tanpa celah untuk mendua
dia menyita semua memori otakku,semua mimpi dan harapan
aku mencintanya setengah mati
seluruh hati telah beralih pemilik
menjadi miliknya seutuhnya
sekali lagi dia berhasil menembus keegoan hati
dia menaklukan hati sekeras batu karang sekalipun
dia wanita sederhana yang menyita pikiranku
aku selalu , selalu dan selalu ingin memilikinya
tapi aku tak mampu
aku tak sanggup
aku tak bisa
waktuku tiada memberi kesempatan
untuk merasa bahagia
sedikitpun tak bisa
takdir terlalu kejam untuk jadi kenyataan
aku mencintanya
sampai di surga nanti, aku masih memandanginya
aku merindunya
selalu....
Air mata tak dapat melukiskan kesedihan yang ku alami. Aku kehilanganmu. Sosok yang membuatku jatuh cinta. Cinta pertamaku. Kita jatuh cinta. Tanpa syarat apapun. Hanya waktu dan takdir mempertemukan kita di suasana yang tepat hingga kita merasa begitu bahagia. Tapi aku hanya mengecap sedikit kebahagiaan bersamamu. Aku masih merindumu.Selalu.Tak ada harap lagi sekarang. Kau telah tiada.


dedicated to :seseorang yang pertama ku jatuhi cinta :') i'm still loving you..

Senin, 27 Agustus 2012

Can you feel...just for a little while?



Kita berteman. Kita bersahabat. Dimana ada kamu, pasti disitu ada aku. Orang-orang menganggap kita berpacaran. Aku tak tahu- tapi saat mereka mengira kita sepasang kekasih, ada sesuatu yang membuat aku bahagia, sesuatu yang bisa membuatku tersenyum.Aku tahu, kau akan selalu mengelak- dan bilang “ kami sahabat, tidak lebih...” dan kata itu memang selalu mujarab saat diucap olehmu. Rasa yang mula-mula manis, lalu berubah jadi getir ketika kau ucapkan itu, dan tiba-tiba udara di sekitarku menipis. Apa aku terlalu jauh dekat denganmu sehingga aku telah jatuh ke dalam hatimu? Aku masih berusaha mengelak dan mengatakan pada diriku sendiri  “ kami sahabat, tidak lebih...”
Lalu kau mulai bercerita. Semua hal. Tentang kuliahmu, teman-temanmu disana, apa saja yang kau lakukan disana, semua hal. Sama seperti dulu. Kau bercerita dan dengan senang hati aku mendengarnya. Kau menjadikanku tempat bercerita segala bahagia dan gundah yang kau rasa. Setidaknya, dengan didengarkan olehku, hatimu merasa lega. Lalu kau bertanya padaku , apakah ada hal yang ingin ku ceritakan padamu. Kemudian aku tersenyum dan berkata tidak hal yang bisa ku ceritakan padamu. Aku punya banyak cerita sebetulnya. Tentang kamu. Ya, semua ceritaku selalu berkisar tentangmu. Tentang persahabatan kita yang lambat laun membuat hatiku jatuh ke arahmu. Aku mulai menyukaimu. Tak ada ruang buat orang lain selain kamu di hatiku.
Aku sadar tak ada tempat buatku di hatimu. Kau selalu menganggapku sebagai sahabat, tidak lebih. Dan aku harus puas dengan keputusanmu itu. Meski aku tahu aku akan selalu sakit bila berada di dekatmu, tapi hanya denganmu lah aku bisa menghirup udara. Aku butuh kamu meski kamu takkan mungkin butuh aku. Aku berusaha tersenyum di hadapmu meski mataku sulit untuk menahan butir air mata.
Ceritamu terhenti pada seseorang. Kau bilang dia cantik, pintar dan sangat cocok denganmu . Kalian sangat akrab dan kau selalu tersenyum saat menceritakannya. Aku merasakan senyum yang berbeda. Kau tak pernah melewatkan setiap kata ketika bercerita tentangnya. Dan kupikir mungkin kau sudah jatuh cinta padanya. Tak ada yang salah dengan perasaanmu . Yang salah hanyalah diri dan perasaanku karena jatuh cinta kepada seseorang yang mencintai orang lain. Entah mengapa, aku merasa harus mengubur perasaan ini dalam-dalam sebelum kau menyadari, bahwa aku menyukaimu.......
Hanya satu hal sebelum aku pergi meninggalkanmu "Can you feel...just for a little while?" hanya sedikit saja dan mungkin aku bisa merasa lebih baik..
당신을 사랑 untuk yang pertama dan terakhir.

Jumat, 17 Agustus 2012

lunar...

Untuk beberapa detik ini , aku mengakui bahwa aku menyukainya
Aku menyukainya.
Tanpa koma,seru,ataupun tanya karena hanya boleh ada satu titik yang mengiringinya.
Aku menyukainya begitu rupa hingga setiap detikku terasa hampa bila tanpa memandang wajahnya
Setiap waktuku selalu dihujani rintik rasa takut kehilangannya
Entah apa yang membuatku mencandu setiap guliran senyumnya hingga tak ada alasan bagiku tuk melupakan dirinya
Saat senja menguasai hanya sejumput asa tersisa yang mematri hati agar meyakini angan mungkin jadi nyata
Angan yang menyadarkannya tentang keberadaanku didekatnya
Angan yang membuatnya percaya bahwa hanya rasa cintakulah yang sempurna dimilikinya-tiada yang lain-
Angan bahwa suatu saat dia juga menyukaiku
Malampun turun perlahan,menunjukkan kerajaannya
Matahari yang merajai menurunkan tahtanya pada rembulan
Saat itu,aku merasa tak ada satupun yang bisa menggantikan posisinya di hatiku
Sama seperti bulan yang hanya bisa menemani bintang menerangi kerajaan malam
Ya... aku dan dirinya seperti bulan dan bintang
Aku tahu dia sebagai bulan bukan hanya menemani satu bintang
Ada ribuan bintang di langit, namun hanya ada satu bulan yang menerangi
Aku hanya berharap akulah satu-satunya bintang yang bisa dia rasakan kehadirannya
Lihatlah aku sebentar saja, bulanku......

Kamis, 16 Agustus 2012

bukan satu-satunya bintang



Aku dan kamu.Selalu kuberusaha melupakan setiap keping kenangan tentangmu.Tapi selalu saja,setiap ku berusaha menghapus memori yang tersimpan,bulir air mata selalu mengiringi tanpa tersadar. Sesak memang,tapi aku tahu aku hanya mencintaimu dalam sakitku hingga tanpa sadar melukai diriku terlalu dalam. Apa itu bisa disebut bahwa “aku masih cinta kamu”? Karena saat ku tahu aku harus melupakannmu dada ini terasa sesak...
Aku dan kamu. Sebuah kalimat berupa doa yang selalu kurengekkan pada Tuhan. Mungkin Tuhan sudah bosan mendengar permintaanku yang satu ini.Yang selalu kupanjatkan tiada henti meski ku kadang tersadar bahwa itu hanyalah mimpi.Hingga suatu saat aku terhenti mendoakanmu.Hingga ku sadar yang kulakukan selama ini hanyalah sia-sia.Aku paham mendung di hati takkan pernah surut selama aku masih berkubang dalam duka tentangmu. Meski tiada yang tahu apakah aku bisa bahagia tanpa melihat seulas senyummu.Meski tak ada yang bisa menjamin apakah aku bisa menapaki hidup tanpa dirimu.Meski tiada yang tahu apakah dengan melupakanmu hatiku akan berhenti tersakiti.
***
                “Kamu lagi ngapain,Na?” Renatha memasuki apartemen saat Nina sedang “bersih-bersih”.
                “Hmm,aku lagi bersih-bersih nih...mau buang semua barang pemberian Mas Radith biar aku cepet ngelupain dia...”ujarnya tanpa memandang kearah Renatha. Boneka,bunga-bunga,cokelat dan semua pemberian Radith memenuhi satu box yang memang khusus menyimpan semua pemberiannya. Nina memandang sedih  box itu. Semua kenangannya bersama Radith tersimpan didalam dan saat dia membuka isinya, rasa rindu itupun menyeruak tanpa ampun,berusaha menggoyahkan keyakinan yang dipupuk olehnya selama ini. Dia menggelengkan kepala,berusaha mengenyahkan rasa itu.
                “Bagus dong..akhirnya kamu bisa ngelupain bajingan itu! Aku seneng dengernya...” Renatha tersenyum dan tak lama kemudian tangannya memeluk bahu Nina erat. “ Aku seneng kamu udah kayak dulu lagi” bisiknya pelan.
                “Hmm..aku cuma mau ngikutin nasehatmu agar aku ngelupain Mas Radith..lagian aku sadar buat apa aku nungguin dia lagi kalo dia udah nggak ada disini lagi...” ucapnya lirih-terkesan kecewa dan sedih- sambil menitikkan air mata.Sialan! jangan ada lagi tangis untuknya! Buat apa menangisi laki-laki bajingan itu! Nina menghapus air mata yang jatuh dengan punggung tangannya.
                “Na,jangan nangis lagi dong,aku nggak bisa liat kamu sedih lagi. Jangan buang air mata kamu buat orang sejahat dia...kamu itu terlalu baik buat dia,lupain dia dan mulailah hidup yang baru...” Pelukan Renatha semakin erat, melingkar di tubuhnya.
Ya! Dia harus kuat! Lupakan bajingan itu agar dia bisa merengkuh kebahagiannya sendiri tentu tanpanya!! Aja aja fighting1 ,Nina!

***
                Minggu kedua bulan Juli ini terasa menyengat. Panasnya hari tak seperti biasanya.Nina menyadari dampak global warming memang sudah terasa. Panas Jakarta sudah tak bisa dikompromi lagi.Namun apa boleh buat, pekerjaanya sebagai seorang sekretaris direktur di sebuah perusahaan konstruksi menuntutnya untuk berteman dengan panasnya udara. Meninjau lokasi-lokasi proyek di tengah hari memang sudah biasa dilakoninya.Namun tak seperti hari ini saat matahari memancarkan cahaya overdosis. Peluh membanjiri keningnya dan tisu pun menjadi satu-satunya hal yang dicari olehnya saat ini.
                Sebenarnya Dimas tak tega membiarkan gadis itu menemaninya. Lihat saja! Belum apa-apa peluh sudah membanjiri keningnya. Senyumnya mengembang tatkala melihat kejadian itu.Dia tampak lucu saat mengelap keringat.Dimas bisa melihat kebosanan Nina saat menemaninya meninjau lokasi.Setidaknya ada 12 kuapan manifestasi dari rasa kantuknya.Belum lagi panas matahari! Biarlah dia begitu untuk sementara waktu,dan tenang saja sebentar lagi akan ku berikan kejutan buatnya! Pikir Dimas dalam hati.Seulas senyum mampir di wajah teduhnya saat dia memikirkan surprise buat Nina malam ini....
                “Setelah ini kita akan mengunjungi panti asuhan yang bapak pilih kemarin... “ celoteh Nina saat melihat Dimas menyudahi kunjungannya di lokasi itu. Nina melihat guratan lelah di wajah Dimas namun hal itu tak menyurutkan sedikitpun niat Dimas untuk terjun langsung memberi bantuan pada anak-anak panti asuhan hari ini. Sebenarnya bisa saja ia menyuruh anak buahnya memberikan itu semua pada panti asuhan itu.Tapi ada rasa yang berbeda saat ia bisa memberikan itu sendiri,dengan tangannya sendiri. Dia bisa melihat senyum bahagia bocah-bocah tak berdosa saat menerima pemberiannya.Dia bisa melihat tangan-tangan kecil itu sibuk membuka pemberiannya dan itu takkan didapatnya jika ia tak terjun langsung memberi bantuan.
                “Oke..lokasinya nggak jauh dari sini kan? “ Dimas memandang keluar jendela mobil.
                “Iya pak...mungkin sekitar 15 menit kita sudah sampai.... rencananya kita akan buka puasa dan sholat maghrib disana bareng anak-anak panti. Apa bapak ada jadwal lain sejauh ini..? “ Nina berbicara sembari membuka jadwal Dimas di agenda kerjanya.
                “Oh nggak ada kok...bisa kan kamu temenin aku makan di luar nanti? Aku mau ke restoran baru punya temenku,sekalian silaturahmi..kamu ada jadwal?” Dimas bertanya balik. Dalam hati ia berharap tak ada rencana yang disusun oleh Nina agar ia bisa mengajaknya pergi.
                Nina menggeleng.Artinya ia bisa melancarkan rencananya hari ini ,malam ini. Dia sudah tidak sabar menunggu saatnya tiba.
***
                “Ayo ..yang mau dapet hadiah baris dulu...” ucap Nina -setengah berteriak- pada anak-anak di depannya. Ia sangat senang sekali melihat senyum anak-anak itu mengembang saat menerima bingkisan yang sudah ia siapkan. Setiap bingkisan yang diberikannya, akan terdengar satu ucapan terima kasih tulus dari bibir mereka. Pandangannya meluas, melihat sekeliling.Pada saat itu juga, tatapannya bertemu pada sosok pria tinggi yang juga sibuk membagikan bingkisan. Senyum ramahnya selalu disunggingkan ke bocah-bocah itu dengan sesekali tawa bergulir di wajahnya. Ada rasa hangat menjalari tubuhnya saat melihat peristiwa itu. Pria itu begitu tulus dan baik hati. Belum lagi wajah dan postur tubuhnya yang ideal ditambah kekayaan dan jabatan yang dimilikinya membuat pria ini begitu sempurna.
                Nina kembali teringat saat pria itu melamarnya dua minggu yang lalu. Rasa terkejut memenuhi pikirannya saat itu. Bagaimana tidak, dia tak menyangka pria sempurna itu mencintainya-terlebih ia ingin memiliki dirinya. Dan hari ini, ia akan memberikan jwaban pada pria itu,meski ia belum  yakin sepenuhnya pada keputusan besarnya itu. Tapi dia takkan mundur lagi-setidaknya dia tak mau mengecewakan pria baik ini.
                Nina tersentak dari lamunannya saat seorang bocah menghampirinya dan memanggil-manggil namanya “ Tante...punya aku mana? “ ucapnya lugu sambil menarik-narik bagian bawah rok Nina.
                “Ini sayang.... “ Nina memberikan bingkisan dan tak lupa menyunggingkan senyumnya pada bocah itu.Setelah melihat semua bingkisan sudah habis dibagikan, Nina merapikan sisa-sisa kotak yang tersisa dan bersiap untuk sholat maghrib bersama anak-anak panti dan Dimas.

Jumat, 27 Juli 2012

Moon, Sea and Sun

Lalu bisakah kau mengucapkan itu pada saat ku minta?
Bisakah kau mengucapkannya meski hatimu tak lagi sepenuhnya tertuju ke hatiku?
Bisakah kau mengucapkannya besok,lusa,nanti , hingga waktu yang tak terbatas?
Coba bisikkan pada semilir angin apa yang ingin kau ikrarkan
Sebelum kau bisa membuktikan padaku
Simpan dulu hingga aku menginginkannya keluar dari persembunyian
Hingga aku yakin bahwa cintamu itu bukan sesaat
Percayalah kata itu sendiri sudah ku ucapkan setiap hari untukmu
Tanpa perlu kau tahu, cukup percaya sama seperti aku percaya padamu.....
***
Aku selalu menelusuri pantai saat senja menjelang.Kau tahu bagian paling indahnya? Kau akan merasakan betapa cantiknya perpaduan jingganya matahari yang tengah kembali ke peraduan saat bertemu dengan buih air laut yang bersemu biru muda.Meski mereka adalah dua hal yang berbeda, mereka selalu dipertemukan pada saat yang sama. Kau tahu? jalan mereka ditakdirkan bersimpangan meski akhirnya mereka akan kembali ke jalan masing-masing. Mereka hanya ditakdirkan bersimpangan sebentar hingga -baru aku sadar- rembulan mulai bangun dari tidurnya dan mulai menggantikan peran matahari. Itulah kita, aku ,kamu dan dia. Yang memiliki persimpangan yang sama tapi dalam waktu yang berbeda. Apa aku harus selalu memiliki kalian berdua seperti buih lautan memiliki matahari dan bulan? Apa kali ini, aku harus melawan kehendak alam? Bahwa buih lautan harus memilih salah satu diantaranya? Matahari yang sinarnya menghangatkan asa atau Bulan yang cahayanya menerangi kegelapan?

" Bagaimana kabarmu? Aku dengar kau sudah jadi koas di RSCM? Bagaimana rasanya menyenangkan?" Suara lembut Keano menyentuh gendang telingaku. Rasanya sudah lama sekali tak mendengar suaranya itu, aku rindu bahkan mendengar suaranya pun membuat aku rindu.
"Capek banget,Kean... kamu tahulah sesibuk apa dunia koas itu, aku baru ngerasain dan aku akui sangat berat..."
Aku termenung teringat kejadian malam tadi.Tepatnya pukul 2.00 WIB.