Jumat, 07 September 2012

at this moment...

aku ingin menghambur ke arahnya.
memeluknya.
mengatakan aku begitu merindunya.
mengikrarkan aku telah jatuh cinta padanya.
membisikkan bahwa dia telah memilikiku seutuhnya
tapi tak mungkin.
dia tak ingin memelukku.
dia tak sedikitpun merinduku.
dia mencinta orang lain.
patah.
hatiku patah.
tiada yang sanggup memungut serpihannya.
aku tak sanggup membayangkannya.
dia menggandeng wanita lain.
dia memeluk seseorang, bukan aku.
aku membencinya, namun aku merindunya.


rindu dan harap

Aku sudah jatuh tepat di titik lebur rinduku. Semua rasa itu menguar, menembus celah-celah pertahananku, membuat hati begitu rapuh. Semua hal selalu mengaitkanku pada sosok dirimu. Kenangan yang terukir selalu berhasil masuk ke alam bawah sadarku seperti kaset yang selalu memutar bagian yang sama berulang-ulang. Memori bersamamu selalu terngiang-ngiang saat sepi menghantui. Aku begitu merindumu.

Tiap kudengar senandung itu, air mataku selalu berhasil menggenangi pelupuk mata. Aku teringat sosokmu yang begitu piawai memainkan gitar sambil menyenandungkan lagu itu. Lagu kita. Lagu yang dibawakan Lee Min Ho "My Everything" begitu lembut menyentuh gendang telingaku. Kau selalu mendendangkan lagu itu. Seperti sebuah hal yang wajib kau lakukan. Semakin lama, lagu itu semakin akrab di telingaku. Bahkan suara Lee Min Ho yang ku idolakan itu sedikit demi sedikit lenyap, tergantikan suara lembut khas-mu. Tapi aku selalu suka cara kau menyanyikannya. Begitu menghayati seolah akulah objek di lagu itu.Aku bangga menjadi objek dalam hidupmu. Aku selalu merindu caramu menyenandungkan itu.

Lalu ku bergerak menuju ruang musik. Disana bersandar gitar kesayanganmu. Kau menggunakannya di saat apapun, bahkan kau pernah bilang bahwa dia adalah hal kedua yang terpenting dalam hidupmu, setelah aku tentunya. Petikan gitar itu selalu berhasil membuat perasaanku jauh lebih baik. Pernah aku belajar memainkan gitar itu, tapi hasilnya selalu tidak sama. Gitar itu seolah punya ruh dan hanya kau saja yang bisa memainkannya dengan indah. Gitar itu sendiri. Sama sepertiku, dia pasti merindu sentuhanmu.

Aku menyusuri lorong di lantai dua saat ku temukan pintu kamarmu terbuka. Rasa penasaran membuat langkahku beralih, masuk menelusuri kamarmu. Kamar khas cowok, lengkap dengan " berantakan" yang memang lazim. Sertifikat, piagam, medali berantakan memenuhi lantai kamarmu. Tanganku refleks memungutinya satu persatu, membuatnya sedikit rapi. Lalu aku menemukan selembar kertas tulisan tanganmu. Dengan cepat aku membacanya.

tiada kata yang tepat menggambarkan rasanya
tiada hal indah yang mampu menandingi kelembutannya
tiada sesuatu yang manis yang melebihi senyumnya
aku mencintainya,tanpa celah untuk mendua
dia menyita semua memori otakku,semua mimpi dan harapan
aku mencintanya setengah mati
seluruh hati telah beralih pemilik
menjadi miliknya seutuhnya
sekali lagi dia berhasil menembus keegoan hati
dia menaklukan hati sekeras batu karang sekalipun
dia wanita sederhana yang menyita pikiranku
aku selalu , selalu dan selalu ingin memilikinya
tapi aku tak mampu
aku tak sanggup
aku tak bisa
waktuku tiada memberi kesempatan
untuk merasa bahagia
sedikitpun tak bisa
takdir terlalu kejam untuk jadi kenyataan
aku mencintanya
sampai di surga nanti, aku masih memandanginya
aku merindunya
selalu....
Air mata tak dapat melukiskan kesedihan yang ku alami. Aku kehilanganmu. Sosok yang membuatku jatuh cinta. Cinta pertamaku. Kita jatuh cinta. Tanpa syarat apapun. Hanya waktu dan takdir mempertemukan kita di suasana yang tepat hingga kita merasa begitu bahagia. Tapi aku hanya mengecap sedikit kebahagiaan bersamamu. Aku masih merindumu.Selalu.Tak ada harap lagi sekarang. Kau telah tiada.


dedicated to :seseorang yang pertama ku jatuhi cinta :') i'm still loving you..

Senin, 27 Agustus 2012

Can you feel...just for a little while?



Kita berteman. Kita bersahabat. Dimana ada kamu, pasti disitu ada aku. Orang-orang menganggap kita berpacaran. Aku tak tahu- tapi saat mereka mengira kita sepasang kekasih, ada sesuatu yang membuat aku bahagia, sesuatu yang bisa membuatku tersenyum.Aku tahu, kau akan selalu mengelak- dan bilang “ kami sahabat, tidak lebih...” dan kata itu memang selalu mujarab saat diucap olehmu. Rasa yang mula-mula manis, lalu berubah jadi getir ketika kau ucapkan itu, dan tiba-tiba udara di sekitarku menipis. Apa aku terlalu jauh dekat denganmu sehingga aku telah jatuh ke dalam hatimu? Aku masih berusaha mengelak dan mengatakan pada diriku sendiri  “ kami sahabat, tidak lebih...”
Lalu kau mulai bercerita. Semua hal. Tentang kuliahmu, teman-temanmu disana, apa saja yang kau lakukan disana, semua hal. Sama seperti dulu. Kau bercerita dan dengan senang hati aku mendengarnya. Kau menjadikanku tempat bercerita segala bahagia dan gundah yang kau rasa. Setidaknya, dengan didengarkan olehku, hatimu merasa lega. Lalu kau bertanya padaku , apakah ada hal yang ingin ku ceritakan padamu. Kemudian aku tersenyum dan berkata tidak hal yang bisa ku ceritakan padamu. Aku punya banyak cerita sebetulnya. Tentang kamu. Ya, semua ceritaku selalu berkisar tentangmu. Tentang persahabatan kita yang lambat laun membuat hatiku jatuh ke arahmu. Aku mulai menyukaimu. Tak ada ruang buat orang lain selain kamu di hatiku.
Aku sadar tak ada tempat buatku di hatimu. Kau selalu menganggapku sebagai sahabat, tidak lebih. Dan aku harus puas dengan keputusanmu itu. Meski aku tahu aku akan selalu sakit bila berada di dekatmu, tapi hanya denganmu lah aku bisa menghirup udara. Aku butuh kamu meski kamu takkan mungkin butuh aku. Aku berusaha tersenyum di hadapmu meski mataku sulit untuk menahan butir air mata.
Ceritamu terhenti pada seseorang. Kau bilang dia cantik, pintar dan sangat cocok denganmu . Kalian sangat akrab dan kau selalu tersenyum saat menceritakannya. Aku merasakan senyum yang berbeda. Kau tak pernah melewatkan setiap kata ketika bercerita tentangnya. Dan kupikir mungkin kau sudah jatuh cinta padanya. Tak ada yang salah dengan perasaanmu . Yang salah hanyalah diri dan perasaanku karena jatuh cinta kepada seseorang yang mencintai orang lain. Entah mengapa, aku merasa harus mengubur perasaan ini dalam-dalam sebelum kau menyadari, bahwa aku menyukaimu.......
Hanya satu hal sebelum aku pergi meninggalkanmu "Can you feel...just for a little while?" hanya sedikit saja dan mungkin aku bisa merasa lebih baik..
당신을 사랑 untuk yang pertama dan terakhir.

Jumat, 17 Agustus 2012

lunar...

Untuk beberapa detik ini , aku mengakui bahwa aku menyukainya
Aku menyukainya.
Tanpa koma,seru,ataupun tanya karena hanya boleh ada satu titik yang mengiringinya.
Aku menyukainya begitu rupa hingga setiap detikku terasa hampa bila tanpa memandang wajahnya
Setiap waktuku selalu dihujani rintik rasa takut kehilangannya
Entah apa yang membuatku mencandu setiap guliran senyumnya hingga tak ada alasan bagiku tuk melupakan dirinya
Saat senja menguasai hanya sejumput asa tersisa yang mematri hati agar meyakini angan mungkin jadi nyata
Angan yang menyadarkannya tentang keberadaanku didekatnya
Angan yang membuatnya percaya bahwa hanya rasa cintakulah yang sempurna dimilikinya-tiada yang lain-
Angan bahwa suatu saat dia juga menyukaiku
Malampun turun perlahan,menunjukkan kerajaannya
Matahari yang merajai menurunkan tahtanya pada rembulan
Saat itu,aku merasa tak ada satupun yang bisa menggantikan posisinya di hatiku
Sama seperti bulan yang hanya bisa menemani bintang menerangi kerajaan malam
Ya... aku dan dirinya seperti bulan dan bintang
Aku tahu dia sebagai bulan bukan hanya menemani satu bintang
Ada ribuan bintang di langit, namun hanya ada satu bulan yang menerangi
Aku hanya berharap akulah satu-satunya bintang yang bisa dia rasakan kehadirannya
Lihatlah aku sebentar saja, bulanku......

Kamis, 16 Agustus 2012

bukan satu-satunya bintang



Aku dan kamu.Selalu kuberusaha melupakan setiap keping kenangan tentangmu.Tapi selalu saja,setiap ku berusaha menghapus memori yang tersimpan,bulir air mata selalu mengiringi tanpa tersadar. Sesak memang,tapi aku tahu aku hanya mencintaimu dalam sakitku hingga tanpa sadar melukai diriku terlalu dalam. Apa itu bisa disebut bahwa “aku masih cinta kamu”? Karena saat ku tahu aku harus melupakannmu dada ini terasa sesak...
Aku dan kamu. Sebuah kalimat berupa doa yang selalu kurengekkan pada Tuhan. Mungkin Tuhan sudah bosan mendengar permintaanku yang satu ini.Yang selalu kupanjatkan tiada henti meski ku kadang tersadar bahwa itu hanyalah mimpi.Hingga suatu saat aku terhenti mendoakanmu.Hingga ku sadar yang kulakukan selama ini hanyalah sia-sia.Aku paham mendung di hati takkan pernah surut selama aku masih berkubang dalam duka tentangmu. Meski tiada yang tahu apakah aku bisa bahagia tanpa melihat seulas senyummu.Meski tak ada yang bisa menjamin apakah aku bisa menapaki hidup tanpa dirimu.Meski tiada yang tahu apakah dengan melupakanmu hatiku akan berhenti tersakiti.
***
                “Kamu lagi ngapain,Na?” Renatha memasuki apartemen saat Nina sedang “bersih-bersih”.
                “Hmm,aku lagi bersih-bersih nih...mau buang semua barang pemberian Mas Radith biar aku cepet ngelupain dia...”ujarnya tanpa memandang kearah Renatha. Boneka,bunga-bunga,cokelat dan semua pemberian Radith memenuhi satu box yang memang khusus menyimpan semua pemberiannya. Nina memandang sedih  box itu. Semua kenangannya bersama Radith tersimpan didalam dan saat dia membuka isinya, rasa rindu itupun menyeruak tanpa ampun,berusaha menggoyahkan keyakinan yang dipupuk olehnya selama ini. Dia menggelengkan kepala,berusaha mengenyahkan rasa itu.
                “Bagus dong..akhirnya kamu bisa ngelupain bajingan itu! Aku seneng dengernya...” Renatha tersenyum dan tak lama kemudian tangannya memeluk bahu Nina erat. “ Aku seneng kamu udah kayak dulu lagi” bisiknya pelan.
                “Hmm..aku cuma mau ngikutin nasehatmu agar aku ngelupain Mas Radith..lagian aku sadar buat apa aku nungguin dia lagi kalo dia udah nggak ada disini lagi...” ucapnya lirih-terkesan kecewa dan sedih- sambil menitikkan air mata.Sialan! jangan ada lagi tangis untuknya! Buat apa menangisi laki-laki bajingan itu! Nina menghapus air mata yang jatuh dengan punggung tangannya.
                “Na,jangan nangis lagi dong,aku nggak bisa liat kamu sedih lagi. Jangan buang air mata kamu buat orang sejahat dia...kamu itu terlalu baik buat dia,lupain dia dan mulailah hidup yang baru...” Pelukan Renatha semakin erat, melingkar di tubuhnya.
Ya! Dia harus kuat! Lupakan bajingan itu agar dia bisa merengkuh kebahagiannya sendiri tentu tanpanya!! Aja aja fighting1 ,Nina!

***
                Minggu kedua bulan Juli ini terasa menyengat. Panasnya hari tak seperti biasanya.Nina menyadari dampak global warming memang sudah terasa. Panas Jakarta sudah tak bisa dikompromi lagi.Namun apa boleh buat, pekerjaanya sebagai seorang sekretaris direktur di sebuah perusahaan konstruksi menuntutnya untuk berteman dengan panasnya udara. Meninjau lokasi-lokasi proyek di tengah hari memang sudah biasa dilakoninya.Namun tak seperti hari ini saat matahari memancarkan cahaya overdosis. Peluh membanjiri keningnya dan tisu pun menjadi satu-satunya hal yang dicari olehnya saat ini.
                Sebenarnya Dimas tak tega membiarkan gadis itu menemaninya. Lihat saja! Belum apa-apa peluh sudah membanjiri keningnya. Senyumnya mengembang tatkala melihat kejadian itu.Dia tampak lucu saat mengelap keringat.Dimas bisa melihat kebosanan Nina saat menemaninya meninjau lokasi.Setidaknya ada 12 kuapan manifestasi dari rasa kantuknya.Belum lagi panas matahari! Biarlah dia begitu untuk sementara waktu,dan tenang saja sebentar lagi akan ku berikan kejutan buatnya! Pikir Dimas dalam hati.Seulas senyum mampir di wajah teduhnya saat dia memikirkan surprise buat Nina malam ini....
                “Setelah ini kita akan mengunjungi panti asuhan yang bapak pilih kemarin... “ celoteh Nina saat melihat Dimas menyudahi kunjungannya di lokasi itu. Nina melihat guratan lelah di wajah Dimas namun hal itu tak menyurutkan sedikitpun niat Dimas untuk terjun langsung memberi bantuan pada anak-anak panti asuhan hari ini. Sebenarnya bisa saja ia menyuruh anak buahnya memberikan itu semua pada panti asuhan itu.Tapi ada rasa yang berbeda saat ia bisa memberikan itu sendiri,dengan tangannya sendiri. Dia bisa melihat senyum bahagia bocah-bocah tak berdosa saat menerima pemberiannya.Dia bisa melihat tangan-tangan kecil itu sibuk membuka pemberiannya dan itu takkan didapatnya jika ia tak terjun langsung memberi bantuan.
                “Oke..lokasinya nggak jauh dari sini kan? “ Dimas memandang keluar jendela mobil.
                “Iya pak...mungkin sekitar 15 menit kita sudah sampai.... rencananya kita akan buka puasa dan sholat maghrib disana bareng anak-anak panti. Apa bapak ada jadwal lain sejauh ini..? “ Nina berbicara sembari membuka jadwal Dimas di agenda kerjanya.
                “Oh nggak ada kok...bisa kan kamu temenin aku makan di luar nanti? Aku mau ke restoran baru punya temenku,sekalian silaturahmi..kamu ada jadwal?” Dimas bertanya balik. Dalam hati ia berharap tak ada rencana yang disusun oleh Nina agar ia bisa mengajaknya pergi.
                Nina menggeleng.Artinya ia bisa melancarkan rencananya hari ini ,malam ini. Dia sudah tidak sabar menunggu saatnya tiba.
***
                “Ayo ..yang mau dapet hadiah baris dulu...” ucap Nina -setengah berteriak- pada anak-anak di depannya. Ia sangat senang sekali melihat senyum anak-anak itu mengembang saat menerima bingkisan yang sudah ia siapkan. Setiap bingkisan yang diberikannya, akan terdengar satu ucapan terima kasih tulus dari bibir mereka. Pandangannya meluas, melihat sekeliling.Pada saat itu juga, tatapannya bertemu pada sosok pria tinggi yang juga sibuk membagikan bingkisan. Senyum ramahnya selalu disunggingkan ke bocah-bocah itu dengan sesekali tawa bergulir di wajahnya. Ada rasa hangat menjalari tubuhnya saat melihat peristiwa itu. Pria itu begitu tulus dan baik hati. Belum lagi wajah dan postur tubuhnya yang ideal ditambah kekayaan dan jabatan yang dimilikinya membuat pria ini begitu sempurna.
                Nina kembali teringat saat pria itu melamarnya dua minggu yang lalu. Rasa terkejut memenuhi pikirannya saat itu. Bagaimana tidak, dia tak menyangka pria sempurna itu mencintainya-terlebih ia ingin memiliki dirinya. Dan hari ini, ia akan memberikan jwaban pada pria itu,meski ia belum  yakin sepenuhnya pada keputusan besarnya itu. Tapi dia takkan mundur lagi-setidaknya dia tak mau mengecewakan pria baik ini.
                Nina tersentak dari lamunannya saat seorang bocah menghampirinya dan memanggil-manggil namanya “ Tante...punya aku mana? “ ucapnya lugu sambil menarik-narik bagian bawah rok Nina.
                “Ini sayang.... “ Nina memberikan bingkisan dan tak lupa menyunggingkan senyumnya pada bocah itu.Setelah melihat semua bingkisan sudah habis dibagikan, Nina merapikan sisa-sisa kotak yang tersisa dan bersiap untuk sholat maghrib bersama anak-anak panti dan Dimas.

Jumat, 27 Juli 2012

Moon, Sea and Sun

Lalu bisakah kau mengucapkan itu pada saat ku minta?
Bisakah kau mengucapkannya meski hatimu tak lagi sepenuhnya tertuju ke hatiku?
Bisakah kau mengucapkannya besok,lusa,nanti , hingga waktu yang tak terbatas?
Coba bisikkan pada semilir angin apa yang ingin kau ikrarkan
Sebelum kau bisa membuktikan padaku
Simpan dulu hingga aku menginginkannya keluar dari persembunyian
Hingga aku yakin bahwa cintamu itu bukan sesaat
Percayalah kata itu sendiri sudah ku ucapkan setiap hari untukmu
Tanpa perlu kau tahu, cukup percaya sama seperti aku percaya padamu.....
***
Aku selalu menelusuri pantai saat senja menjelang.Kau tahu bagian paling indahnya? Kau akan merasakan betapa cantiknya perpaduan jingganya matahari yang tengah kembali ke peraduan saat bertemu dengan buih air laut yang bersemu biru muda.Meski mereka adalah dua hal yang berbeda, mereka selalu dipertemukan pada saat yang sama. Kau tahu? jalan mereka ditakdirkan bersimpangan meski akhirnya mereka akan kembali ke jalan masing-masing. Mereka hanya ditakdirkan bersimpangan sebentar hingga -baru aku sadar- rembulan mulai bangun dari tidurnya dan mulai menggantikan peran matahari. Itulah kita, aku ,kamu dan dia. Yang memiliki persimpangan yang sama tapi dalam waktu yang berbeda. Apa aku harus selalu memiliki kalian berdua seperti buih lautan memiliki matahari dan bulan? Apa kali ini, aku harus melawan kehendak alam? Bahwa buih lautan harus memilih salah satu diantaranya? Matahari yang sinarnya menghangatkan asa atau Bulan yang cahayanya menerangi kegelapan?

" Bagaimana kabarmu? Aku dengar kau sudah jadi koas di RSCM? Bagaimana rasanya menyenangkan?" Suara lembut Keano menyentuh gendang telingaku. Rasanya sudah lama sekali tak mendengar suaranya itu, aku rindu bahkan mendengar suaranya pun membuat aku rindu.
"Capek banget,Kean... kamu tahulah sesibuk apa dunia koas itu, aku baru ngerasain dan aku akui sangat berat..."
Aku termenung teringat kejadian malam tadi.Tepatnya pukul 2.00 WIB.

Selasa, 24 Juli 2012

perhaps you...

Apa yang paling menyakitkan di dunia ini?
Jawabku adalah saat dimana setiap harinya aku berusaha menepis bayangmu di saat arah hatiku masih selalu tertuju ke arahmu. Ini tidak adil , kan? Ketika aku tidak mau mencintaimu lagi karena ku tahu hanya rasa sakit yang akan ku terima jika aku masih berkutat dalam duniamu,sekali lagi, ada suatu perasaan yang tersembunyi kembali menyeruak,menguar dengan spontan kala aku berusaha menghapus jejakmu. Mungkin ini terlalu rumit untuk sekadar dipahami olehmu, dan mungkin juga kau tak punya sedikitpun keinginan untuk mengetahuinya,karena bagimu aku hanya angin lalu kan?

Aku selalu berusaha mengorek keluar rasa sakit yang kau ciptakan agar aku bisa melupakan dirimu.Nyatanya,bersamaan dengan itu, muncul pula kenangan bahagia saat bersamamu,bahkan kenangan itu selalu berhasil mengusir keyakinanku untuk melupakanmu. Kenangan bahagia itu bukan kau ciptakan oleh tanganmu sendiri, itu hanya rasa bahagia semu yang ku rancang sendiri ketika aku memimpikanmu dalam tidur,dengan mencampurkan senyum singkat yang kau gulirkan saat menatapku dan perhatian kecil yang ku anggap adalah hal yang istimewa. Begitu tergila-gilanya aku pada wujudmu hingga aku menjadi seperti ini. Aku tahu cinta ini takkan terbalas. Aku tahu rasa itu takkan kunjung datang. Karena itulah aku berusaha menutup buku harianku tentangmu. Tapi mengapa kala aku berhenti memikirkanmu, rasa sesak itu kembali mneghempas dada-bahkan lebih sesak dibanding aku dilukai olehmu?
Apakah ini yang namanya-cinta mati?

Minggu, 22 Juli 2012

too perfect to be mine

Aku selalu senang melihat senyummu --hangat dan menular-- membuat orang yang melihatnya akan tertular untuk tersenyum. Entah bagaimanapun orang menilai tentangmu, aku tetap merasa kau bukan seperti gosip yang berkembang di belakangmu, entah mengapa perlahan aku menghapus sedikit demi sedikit persepsi negatif tentangmu. Kau harus berterima kasih dengan senyummu itu yang kemungkinan membuat keyakinanku goyah, yang membuat aku mempercayai ketulusan hatimu, yang membuat aku menyadari bahwa aku menyukaimu......

Tanpa beban ataupun harapan, aku bebas menikmati apa yang ada depan mata. Kau selalu bersikap manis meski ku tahu tak ada yang bisa ku perbuat untuk membuatmu bahagia. Aku hanya bisa membuatmu bersedih. Aku bahkan tak sanggup membalas semua senyum manismu yang selalu ampuh menenangkan sarafku yang menegang. Kau selalu ada ketika aku butuh a shoulder to cry on , meski aku sendiri tak pernah bisa sepertimu, yang selalu tulus padaku. Kau selalu mengatakan " hei tak perlu khawatir padaku, aku baik-baik saja, selama kau bahagia akupun ikut bahagia" dan hal itu semakin membuatku sedih. Kau tahu? itu karena aku tahu aku hanya bisa memberikan kesedihan buatmu.

Aku tak pernah tahu, apa yang kau lihat pada diriku hingga kau menyukaiku? cantik? pintar ? kaya ? semua kata itu sangat jauh dari latar belakangku. Hal misterius ini semakin membuatku berpikir bahwa aku memang benar-benar tak pantas buatmu. Tapi kau terus meyakinkan hatiku agar aku percaya bahwa kau sungguh-sungguh mencintaiku tanpa ada paksaan,ancaman ataupun kasihan sekalipun. Aku terenyuh mendengarnya kala itu, tapi sesaat aku tersadar aku tak pantas buatmu, aku tak pantas membuang waktumu hanya karena mencintaku...

Sabtu, 21 Juli 2012

Bagaimana aku?

"Aku akan baik-baik saja"
Kalimat itu terus terngiang di telingaku..Mulutku mungkin bisa saja merapal kata-kata itu tanpa henti.Tapi bagaimana dengan hatiku,bagaimana dengan perasaanku, aku ragu mengatakan itu walaupun hanya satu kali saja. Dulu aku yakin aku tanpamu baik-baik saja.Aku tanpamu akan bahagia.Tapi sekarang kenapa dadaku terasa sesak saat ku lihat punggungmu berbalik membelakangiku dan perlahan...menjauh?
Keyakinanku mulai goyah seiring dengan langkah kakimu yang meragu.. cinta? aku ragu memikirkannya..sungguh aku ragu aku ternyata sekarang telah mencintaimu Danny William,seseorang yang mengingatkanku pada masa lalu
***

Aku tidak benar-benar membencimu,hanya saja wajahmu mengingatkanku pada sosok orang yang tak ingin ku temui lagi dalam hidupku.Seseorang yang telah menghancurkan hidupku.Aku tahu kau berbeda darinya.Aku tahu kau tidak seburuk dirinya atau boleh ku katakan kau sangat berkebalikan dengannya.Tapi mengapa ketika memandang wajahmu,aku merasa sulit bernafas dan selalu terkenang masa kelam itu?

Aku tahu kau mengetahui aku menjaga jarak denganmu,tapi kau tidak mau ambil pusing.Kau selalu berusaha menjadi teman yang baik bagiku.Menemaniku sepanjang hari meski sepanjang itulah aku terus membentakmu,anehnya kau tidak kesal ataupun marah padaku,kau hanya mengatakan "ini bukan dirimu..." lalu kau tersenyum dan untuk sesaat aku lupa bahwa kau adalah saudara kembar Jeremy, orang yang merusak kehidupanku.....

Aku memutuskan untuk berteman denganmu meski ku tahu konsekuensinya. Konsekuensi bahwa selama aku di sisimu aku akan selalu dibayangi oleh saudara kembarmu. Kau menghiasi hariku dengan sempurna,kembang api, makan malam, berjalan-jalan ke tempat yang tak pernah ku kunjungi sebelumnya,setiap hari adalah baru bagiku saat bersamamu.

" Kau dimana? kau sudah makan malam?" suaranya terdengar cemas.
"Aku baru tiba di rumah dan aku tadi sudah makan..bagaimana pekerjaanmu di NewYork? kapan kau pulang?" rentetan pertanyaan keluar dari mulutku tanpa sadar.
"Hei..kau merindukanku ya? " tanyanya menggodaku.
"Hmm...aku..aku.." aku tak tahu harus berkata apa.Aku bukanlah orang yang dengan gampangnya mengumbar suasana hatiku pada orang lain.
"Hmm apa?? Aku baru tiba juga disini... aku sangat merindukanmu,bisakah kau keluar? ada sesuatu untukmu..." ucapnya dan kemudian memutuskan hubungan telepon. Aku beranjak dari kamarku,menuju pintu depan dan mendapati seseorang yang tak asing bagiku tengah berdiri,Danny  William... seseorang yang membuat tidurku tak lelap.....seseorang yang ku rindukan akhir akhir ini...
 Ya Tuhan aku sangat merindukannya,aku sangat merindukan senyumannya,aku sangat merindukan tawa renyahnya..Aku merasa kehilangannya padahal cuma 3 hari dia tak bersamaku
Dan kurasa aku tak bisa beranjak dari sisinya..
Aku yakin tak sanggup jika harus berpisah dengannya,meskipun harus....
"Berilah kekasihmu ini pelukan selamat datang..ayolah aku sudah sangat merindukanmu...."
Aku tersentak mendengar kata itu keluar dari mulutnya... "kekasih" katanya?
 Sebelum sempat mencerna kata itu, Danny segera menarikku ke dalam peluknya.Entah mengapa aku merasa hangat dan nyaman di posisi seperti ini.Aku tak berusaha mengubah posisiku. Entah mengapa aku percaya bahwa Danny akan selalu melindungiku dan entah mengapa aku merasa dia punya perasaan yang sama denganku?
Tanpa ragu aku membalas pelukannya,melingkarkan kedua tanganku ke tubuhnya dan tanpa sadar ku bisikkan " aku juga merindukanmu..."
Dan percayalah, hanya sinar temaram rembulan dan kumpulan bintang yang menyaksikan momen ini...


Selasa, 17 Juli 2012

Permainan?

Bagaimana mentafsirkan rasa ini
Begitu absurd, begitu menggelikan
Kau tahu rasanya ketika dicampakkan dan dikhianati?
Lalu kemudian dicintai kembali sepenuh hati ?
Mungkin kau belum merasa
Hanya pernah membuat orang lain merasa

Aku tersanjung ketika rasa itu memilihku sebagai pemiliknya
Bagaimana bisa aku terhanyut dalam jebakan itu
Aku tak tahu
Aku hanya ingin merasa
Aku hanya ingin bahagia

Namun aku salah mengerti jalan cerita
Aku terlalu gegabah memilih
Hingga aku tersakiti tak terperi
Sampai aku terluka sendiri
Salahmu?

Alasanku menyukaimu karena hanya kamu yang membuatku mencintai tanpa alasan
Tiba-tiba rasa itu datang dan tak mau berkompromi dengan logika
Aku terpesona akan indahnya cinta
Hingga tak sadar diri ini terjebak
Aku tak bisa diselamatkan lagi

Lalu kamu menghempaskan aku
Lalu kamu mencampakkan aku
Ketika aku sudah mencintai sepenuh hati
Salahku?

Kau tersadar dan lalu mengemis cintaku lagi
Permainan kah rasa ini menurutmu?
Kau pikir semudah itu memperbaiki kepingan hati yang telah hancur?
Kau tak bisa membuatku jatuh cinta lagi
Kau tak bisa membuatku bersedih lagi

Aku yakin
Tanpa aku kau akan baik saja
Tanpa kamu aku akan baik saja
Aku percaya itu....